Minggu, 25 September 2011

@ Makna Futur

“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (QS. Al-Anbiya : 19-20)

Dalam Lisanul Arab, arti futur adalah : diam setelah giat, dan lemah setelah semangat. Allah SWT berfirman
Menurut Imam Thabari dalam tafsirnya pengertian “Laa yahturuun:” dalam ayat di atas ialah : para malaikat tidak kenal letih dan tanpa rasa bosan (tafsir at-thabari, 17/12).
Ketika membahas kisah zainab ra. Yang meletakkan seutas tali untuk dapat digunakan sebagai tempat bergantung jika datang masa futurnya. Ibnu hajar mengungkapkan arti futur dalam kalimat tersebut adalah : rasa malas untuk berdiri melaksanakan shalat (kitab Fath Al-Bari, 3/36).
Sejala dengan pengertia diatas, Abdullah bin Mas’ud ra. Pernah meratap tatkala menderita suatu penyakit pada akhir hayatnya, beliau berujar, “sesungguhnya aku menangis, lantaran diriku di serang penyakit ini pada saat futur. Dan bukan pada saat ijtihad (giat).” Menurut Ibnu Al-Atsir, pengertian futur dalam hal ini adalah : semua keadaan diam, menyedikitnya porsi beribadah dan mengurangnya semangat (An-Nihayah fi Gharib Al-Hadist, karya Ibnu Al-Atsir, 3/408)
Futur ialah kendala yang menimpa para aktivis dakwah. Efek terburuknya berupa, ‘ingitha’ (terputusnya aktivitas) setelah istimrar (kontinyu) dilaksanakan. Sedangkan efek minimalnya adalah timbulnya sikap acuh, berkembangnya rasa malas, berlambat-lambat dan bersantai-santai, dimana sikap tersebut datang setelah sikap giat bergerak.

Fenomena ‘futur’, sebenarnya masalah yang pasti hadir tanpa ada seorang pun yang dapat mengelak dirinya. Sebagaimana tersirat dalam sinyelemen Rasulullah saw kepada Abdullah bin Amr bin Ash ra:
“Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti fulan, sebelum ini ia rajin bangun pada malam hari (shalat tahajjud), namun kemudian ia tinggalkan sama sekali.” (HR. Bukhori, dalam kitab Fath Al Bari, no: 1152, 3/37).
Seorang da’i, sekalipun ia akan mengalami masa-masa futur, namun saat-saat itu bak saat “turun minumnya” seorang prajurit yang berada di medan laga, dimana setelah itu ia akan kembali terjun berjuang dan berjihad. Rasulullah saw pernah bersabda pada sebuah riwayat dari Abdullah bin Amr ra. Yang berbunyi:
“Setiap amal itu ada masa semangat dan masa lemahnya. Barangsiapa yang pada masa lemahnya ia tetap dalam sunnah (petunjuk) ku, maka dia telah beruntung. Namun barangsiapa yang beralih keoada selain itu, berarti dia telah celaka.” (Musnad Imam Ahmad, 2/158-188. dan ada pula hadist yang sejalan maknanya dari Abu Hurairah, pada kitab Shahih Al-Jami’ As-Shaghir, no. 2147)
Syaikh Islam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata,”saat-saat futur bagi seorang yang beramal adalah hal wajar yang harus terjadi. Seseorang masa fuurnya lebih membawa ke arah muraqabah (pengawasa oleh Allah) dan pembenahan langkah, selama ia tidak keluar dari amal-amal fardhu, dan tidak melaksanakan sesuatu yang diharamka oleh Allah SWT, diharapkan ketika pulih ia akan berada dala kondisi yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Sekalipun sebenarnya, aktivitas ibadah yang disukai Allah adalah yang dilakukan secara rutin oleh seorang hamba tanpa terputus.” (Madarij As-Salikin, 3/126).

  “Amal agama yang paling disenangi Rasulullah saw. Adalah yang dikerjakan secara terus-menerus oleh pelakunya.” (Al-Bukhori, no. 43. lihat kitab fath al-Bari, 1/101)
Amal yang kontinyu lebih disukai karena dua sebab: pertama, bahwa orang yang meninggalkan suau amal setelah ia melaksanakan adalah laksana orang yang berbalik pulang setelah sampa ke tujuan. Dan kedua, sikap terus menerus melakukan sesuatu kebaikan adalah tuntutan suatu pengabdian. Sebagaimana seorang yang bertugas menjaga sebuah gerbang, tidak sama antara mereka yang bertugas menjaganya setiap hari dan setiap saat dengan orang yang hanya menjaganya satu hari penuh kemudian ia pergi. (Fath  Al-Bari, 1/103).
Futur bisa pula terbukti lewat kelemahan seoarng da’I dalam upayanya mengejawantahkan karakteristik juru dakwah itu sendiri. Hal ini diantara yang akan meminimkan angka produktivitas dakwah, sejurus dengan perilaku da’I yang mengalami tugas hanya pada bentuk aktivitas yang ia sukai saja, dan enggan melaksanakan aktivitas yang tidak sejalan denan hawa nafsunya.

Sumber : http://blogumam.wordpress.com

Minggu, 11 September 2011

@ Musafir Kenangan

Romantika keheningan...
Menyiplak masa melengkapi kesepian kekosongan dijiwa.....
Seirama lantunan perjalanan detik waktu yang terus bergema....
Melunasi pencaharian sesosok bayang yang begitu mudah ditemukan....
Sekujur malampun telah kuyup tersiram diusir fajar...
Mengabaikan sombong musafir....
Kenangan yang terlelap di alam khayalan....
Segalapun tunai tertinggali perihnya kesendirian disepian.....
Melengkapi kalimat batin siksaan perjuangan rasa....
Mengejar setitik cahaya pengobat diri....
Menerpis semua khayalan yang penuh tipu....
Ketika kelelahan menghampiri jiwa dari segala dusta.....
Tubuh terpatung raga tak berdaya....
Hanya sekeping hati yang mampu hidup bertahan....
Memecah heningnya khayalan.....
Mengubur dalam romantika kenangan....
Menghidupkan kembali warna warni kehidupan....
Disana akan ditemui betapa berharganya napas hidup ini...
Mengalahkan nilai-nilai dunia dan seisinya...
Tinggallah kenangan walau pahit tertelan....
Tak ada gunanya larut dalam fananya dunia...
Karena dunia tak selamanya berperan alam kegelapan....
Akan ada setitik cahaya sebagai penerang....
Hanya setapak jalan yang akan menentukan gelap terangnya hidup...
Yang akan mengantarkan sepi ramainya kehidupan.

Dikirim oleh : By. Syair Pujangga
Selasa, 06 September 2011

@ Tipuan Dunia

Butiran kehinaan tak henti mengalir diri....
Menyogok mimpi memugar dosa yang tak pernah disesali....
Segala semua bermata nilai harta ditentukan....
Menjadi sebingkai kata halal yang tak pernah terakui....
Disinilah dunia kini banyak bercerita tentang harga diri....
Menipu kejujuran tersesat kata....
Kebohonganpun tertelan sudah....
Ketika kemiskinan bagai neraka....
Menghindari kafir demi keinginan....
Menjadi bayangan dalam sosok diri yang begitu dibanggakan....
Apalah arti kesempurnaaan hamba kini dibunuh dalam kerakusan.....
Hanya segenappun tak mampu sebenarnya dinikmati....
Tipuan begitu berkilau membius kebodohan iman sang insan....
Melupakan sesat hingga terpuruk sejauh dasar batas kehinaan.....
Sungguh dunia takkan ternikmati dalam imaji kerakusan....
Tak terengkuh nikmat bila dunia sesak penuh direlunh hatimu....
Benarlah nilai sesungguhnya takkan ada yang termiliki....
Hanya nafsu berpuasa menyisakan diri dalam kehausan yang tak terpenuhi....
Pandanglah baik-baik dengan segala bentuk adanya rasa....
Sedikitpun dunia tak akan dapat memuaskan rakus jiwamu.....
Meski seluruh ingin telah terangkum dalam genggaman.....
Yakinlah, setelah nikmatpun takkan terhenti memusuhimu....
YAKINLAH............................!!!!!!!!!!!!

Dikirim oleh : By. Syair Pujangga
Senin, 06 September 2011