Rabu, 03 Agustus 2011

@ Universitas Kehidupan

Apa kabar IMAN ? Semoga selalu menapak maju
Apa kabar HATI ? Semoga bersih dari kabut
Apa kabar CINTA ? Semoga selalu berpeluh rindu pada-NYA
Apa kabar SAUDARAKU ? Semoga dalam keadaan sehat wal’afiat

Ba’da tahmid, syahadat, wa sholawat…..

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh

Untuk saudara/iku tercinta, kan ku persembahkan rangkaian kata-kata sebagai penumbuh kembali benih semangat berjuang tuk terus maju dan melangkah dalam jalan dakwah ini.

Aktivis dakwah bukanlah robot….
Bukan pula manusia yang merobot….
Tiba-tiba menjadi asosial dan tidak merasakan sensitifitas rasa humanis.

Aktivis dakwah tetap sah mengatakan itu cantik….itu tampan…..
Dalam rangkaian pada Penciptaan si makhluk tampan dan cantik.
Aktivis dakwah hanya mengambil sikap yang berbeda dalam menyikapi gejolak perasaannya.

Sebab….
Jalan yang dipilihnya memang menempatkannya untuk tidak menjadi manusia kebanyakan dalam mengolah rasa cinta dan kekaguman.

Aktivis dakwah bukanlah robot….
Bukan pula manusia merobot….
Kaku tanpa rasa….
Bedanya mereka mengekspresikan kekaguman dan cintanya dengan cara yang “semestinya”

Sebab….
Jalan yang ditempuh menempanya untuk menjadi segala sesuatu menjadi “indah dan terjaga.”

Termasuk cintanya pada setiap hal yang berpotensi menyaingi posisi RABB di dalam hatinya (cinta duniawi) apabila dalam konteks dakwah di jalan-NYA.

Cinta adalah jalan pintas menuju perubahan.
Betapa banyak jiwa berubah menjadi baik disebabkan oleh cinta.
Betapa banyak akal yang terhenti dikarenakan oleh cinta.
(Jam Badr Al Muthawwin)

Sungguh indah memang bila cinta di balut dalam sebuah pernikahan…

Yupz… Pernikahan.
Menikah adalah sebuah keikhlasan tanpa batas yang ditujukan seorang hamba untuk RABBnya.
Oleh sebab itu kita sebagai aktivis dakwah, salahkah jika orang ingin selalu membuktikan komitmen di setiap langkah dan sikap kita?
Pernikahan adalah salah satu ujian komitmen bagi seorang aktivis dakwah.

Apakah kita begitu banyak membuat point-point criteria terhadap pasangan hidup kita kelak?

Apakah ketika kita menetapkan siapakah sebelah sayap kita begitu banyak pertimbangan pribadi hingga pada beberapa point kepentingan ummat dan dakwah menjadi pertimbangan kedua, ketiga atau terakhir?

Dan pernikahan menjadikan kita belajar banyak hal. Bahwa pasangan kita adalah manusia biasa yang memiliki potensi hina dan mulia sama seperti kita. Menikah bukan sekedar untuk bahagia, namun bersama menuju syurga. Siap menikah bukan berarti rela menerima apa yang dipilihkan ALLAH untuk kita. Meski nanti akhirnya beliau yang akan menjadi pendamping hidup kita adalah orang yang telah atau belum kita kenal.

Menikah berarti siap menerima seorang qowwam untuk diri kita. Menikah berarti siap berjuang. Karena pernikahan bukanlah akhir namun merupakan gerbang pembuka sejarah kehidupan selanjutnya karena pernikahan adalah sunnah yang bersejarah.

Pernikahan merupakan Fakultas Kesabaran dari suatu Universitas Kehidupan.


Ya RABB…
ketika aku jatuh cinta….
Ijinkan ia dating pada waktu yang tepat, dimana cinta itu akan membuatku selalu mengingat-MU dan bukan melupakan-MU.
Ketika aku jatuh cinta….
Cintakan hamba pada seseorang yang senantiasa mencintai-MU dan dapat membuatku semakin mencintai-MU.
Ketika aku jatuh cinta…
Jagalah hati hamba agar cinta itu tidak berbalik menjadi mata pisau yang tajam, yang siap memporak-porandakan cintaku kepada-MU.

Lalu bagaimana bila pernikahan itu belum juga mengunjungi kita…

Saudara/iku…..
Belajarlah dari Aisyah ra.a diusianya yang ke-20. pada usia tersebut beliau sudah tidak didampingi suami dalam menjalankan hidupnya. Beliau juga tidak mempunyai keturunan seorang pun. Lalu apakah hidup Aisyar r.a menjadi sepi dan tidak produktif?

Tidak, justru pada usia muda itu, beliau berhasil mengaplikasikan ilmu-ilmunya yang di dapat dari tarbiyahnya Rasulullah saw. Dan membagikannya seluruh muslim/ah yang belajar pada beliau. Dan sisi lain jugalah seharusnya kita belajar dari beliau, bukan saja ketika ia menjadi istri Rasul tetapi juga belajar pada kehidupannya ketika Rasul telah meninggalkannya.

Keikhlasan Aisyah r.a menjadi istri Ummul Mukminin yang ditinggal suaminya saat usia belum genap 20 tahun tidak membuatnya lemah. Islam telah menjadi bagian dari hidupnya. Al Quran menjadi teman hidupnya. Idealisme, perjuangan dan semangat memberi yan terbaik buat ummat atas apa yang dimilikinya. Dengan itu Islam terus tumbuh dan berkembang, bersama tumbuhnya pribadi-pribadi tegar pengusungnya.

Sauadara/iku….
Peliharalah keinginan menikah dalam hati. Namun ingat, bukan untuk menikah kita diciptakan di dunia ini, menikah bukanlah tujuan hidup. Menikah merupakan salah satu sarana yang dapat membawa kita pada kesempurnaan penciptaan sebagai khalifah di muka bumi. Jika sarana itu tidak menghampiri, bukan berarti kita tidak dapat mencapai kesempurnaan sebagai muslim/ah.
Ada banyak sarana…..

Ar Rumaisha

“Kesenangan dunia hanya sedikit sekali, sedangkan akhirat lebih baik untuk orang yang bertakwa kepada ALLAH, dan tidaklah mereka teraniaya sedikitpun juga.”
 (Q.S. An Nisaa :77)

Semoga hidayah ALLAH tetap menyertai kita mari pererat lagi jabatan tangan kita, mendekat lagi bersama menghimpun tekad untuk melangkah melewati jurang dalam jalan perjuangan yang semakin terjal.

Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Tidak ada komentar: